Berawal Dari Skripsi Hingga Backpacker Asia Tenggara Part I

Aku memang suka sekali dunia traveling gitu. Keinginan untuk menjadi seorang traveler sudah ada sejak aku duduk dibangku SMA. Yang panting bagiku  jalan-jalan kemana aja, get in lost di tempat antah berantah, menemukan sesuatu yang baru, teman baru, lingkungan baru, suasana baru, cara berpikiran yang berbeda. Kalau bisa sesuatu yang jarang orang lain bisa dapatkan, yang nantinya akan aku bagi dengan teman-teman. Rasanya menjadi suatu kebanggan sendiri 😀 .

Pernah saat aku duduk dibangku SMP, aku coba melakukan traveling kecil-kecilan gitu bersama teman-teman ke salah satu tempat wisata di Sumatera Utara, namanya sudah tidak asing lagi bagi warga Medan “Sembahe”. Kebetulan hari itu anak-anak sekolah baru saja menyelesaikan ujian, so pasti tempat ini bakalan ramai sekali. Ketika pulang, kami ber-5 duduk di atas bus yang cukup mengerikan “BORNEO”. Bagi orang yang sudah menaiki bus ini, pastilah sudah tau bagaimana rasa menaiki bus ini :D.Kondisi luar bus ini sudah parah, apalagi interior di dalam bus sudah tidak layak pakai lagi. Yang paling mengerikannya lagi cara supir mengendarainnya tidak pantas di contoh, sangat ugal-ugalan dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Kita seperti di dalam bus penghantar mau. Ini pengalaman pertama aku duduk di atas atap bus Borneo. Kami duduk di atas karena bangku di dalam bus sudah penuh dengan warga lokal dengan berbagai macam bawaan, sehingga membuat aroma bau yang tidak sedap untuk di hirup . Tidak berselang lama bus berjalan, naiklah beberapa orang dewasa ke atas bus dan duduk bersebelahan dengan kami. Tampangnya kusam, gadel, dan acak-acakan seperti preman, dan yang parahnya lagi mereka sambil minum alkohol. Sambil menikmati perjalanan, tiba-tiba saja seorang di antara mereka menampar temanku, dan meminta uang yang ada di dalam saku. Saat itu aku sudah takut dan pucat, karena orang-orang ini berada diluar kendali sambil mabuk-mabukan, bisa saja mereka melemparkan kami semua ke bawah jurang pada saat itu. Aku tidak bisa berbuat banyak, karena salah satu dari mereka memegang pisau. Temanku hanya bisa pasrah dan mengeluarkan seluruh uang kedalam saku. Karena pada saat itu aku sangat ketakutan dan sambil menahan tangisan terseduh-seduh. Akhirnya  si preman tidak minta uang ke aku. Pengalaman ini tidak bisa aku lupakan, setiap berjumpa dengan teman SMP, pasti aku selalu jadi bahan candaan karena tangisan itu :’)

***

Tadi hanya sekilas info aja. Baiklah perkenalkan dulu namaku Reza Fahmi, dan teman-teman kampus memanggil aku “Criman” yahhh bisa di artikan menjadi beberapa makna “Criman = Cribo Preman, Cribo Manis” , sesuai dengan muka-ku  yg rada manis dan agak kepreman-premanan kata mereka sih begitu. Sejarahnya dulu aku  kribo. Setiap dosen yang masuk kelas selalu heran jika melihat aku, bukan karena pintar atau di segani, tapi karena tiap kali masuk kelas, aku seperti orang tidak mandi, muka acak-acakan, rambut kering tidak terurus, apalagi di kelas ada yang satu spesies kribonya sama persis seperti aku, begitu jalan berdua pasti jadi bahan candaan sama teman-teman. So far kita santai aja selama meraka tidak menajahilin rambut kita :D.

The Cribo Crew

The Cribo Crew

Bersama Keribo Lainnya

Bersama Kribo Lainnya

Rambut kribo-ku hanya bertahan 1 tahun aja. Aku akan mengikuti  ujian tes di salah satu perusahaan milik negara, jadi kribo nya harus aku relakan untuk di potong. Usaha untuk memotong rambut tidak sia sia. Aku lulus dan bahkan aku sampai ke tahap interview akhir. Tapi untuk tahapan interview ada sedikit kendala. Tanggal interview akhir dan tanggal ujian akhir semester dikampus bersamaan dikampus. Ini akan menjadi pilihan sulit, berusaha meminta minta izin untuk mengikuti ujian susulan dengan salah seorang dosen, tapi tidak ada pencerahan “sama saya tidak ada ujian susulan, terserah mau ikutan ujian atau tidak” . Akhirnya aku memilih untuk ikutan interview, karena ini adalah tahap akhir. Beberapa bulan kemudian pengumuman interview akhir di umumkan “Anda Tidak Lulus Ditahap Ini” arggggg sudah ada 5 orang yang ikutan interview, tapi yang diterima hanya 3 orang saja, sepertinya ada sesuatu dibalik sesuatu, tapi yasudahlah mungkin belum rezeki. Keesokan harinya nilai ujian satu per satu pun mulai keluar di website online kampus “B, C, C, B, D, D, C” ohh tidak inilah adalah resiko kemarin karena tidak ikutan ujian akhir. Argggg lengkap sudah 😥

***

Sekarang aku sudah di semester expire, lagi menempuh dan berjuang dalam menghadapi kegalauan mahasiswa tingkat akhir. Hal ini bukan hanya aku saja yg merasakan. Mungkin aku adalah orang keseribu dari sekian banyak mahasiswa yang stuck akibat skripsi. Terkadang ada mahasiswa jika di tanyakan masalah skripsinya, langsung sensitif dan marah-marah, bahkan ada yang mendramatisir kehidupan skripsinya. Sebenarnya tidak  perlu seperti itu, yang penting skripsi itu di kerjakan, jangan di pandangin dan d itangisi, sama aja tidak akan segera selesai-selasai skripsinya. “Keep Calm and Kerjain Skripsi”

Begitu juga denganku, sudah mengajukan beberapa judul skripsi tapi tetap saja ditolak, ini baru judulnya saja. Dosennya yang kurang mengerti, apa aku yang memberikan judul yang kurang berbobot =.= Singkat cerita satu semester berlalu dengan banyaknya revisi yang dilakukin. Akhirnya naik seminar proposal, semangat membara pun gak kebendung lagi karena harus mengejar wisuda secepatnya, siang malam tanpa kenal waktu ngerjain revisi terus. #Jebret Skripsipun selesai dan aku sudah bisa tertawa panjang lebar dan sudah siap untuk bimbingan sama dosennya besok harinya. Ditunggu sudah seminggu tidak ada kabar tentang si  dosen , sms gak di balss, telpon juga gak diangkat, kemana aku harus mengadu huaa skripsiku terhambat lagi.

Bersambung di part selanjutnya 😀 

Advertisements