Berawal Dari Skripsi Hingga Backpacker Asia Tenggara Part II

Minggu kedua setelah aku menyelesaikan hasil dari penelitian skripsi, akhirnya aku jumpa juga dengan ibu dosen pembimbing ke-II (*gosipnya si dosen akan kuliah S3 di luar kota, nah kemudian nasibku bagaimana? Padahal si dosen ini yang berbaik hati memberikan judul skripsiku). Ibu dosen ternyata bingung sendiri dengan skripsi yang aku buat, padahal sudah mengerjakan hasilnya error terus, dan terus melakukan revisi  revisi lagi. Minggu depan aku kembali lagi, dan ternyata gossip benar.Baru juga seminggu yang lalu jumpa, seharusnya dia bilang ketika aku bimbingan kemarin kalau beliau akan berangkat 😥 . Karena hanya ibu dosen ini yang mengerti bagaimana skripsiku, bagaimana tidak, dia juga yang memberikan aku judul ini. Berhubung ibu dosen pembimbing-II lagi masa pendidikan, terpaksa harus melapor ke Sekjur masalah penggantian dosen yang baru. Dapatlah dosen yang berhati malaikat hhihiih. Pantesan aku di kasih dosen ini, ternyata eh ternyata ibu Sekjur yang kebetulan sebagai dosen pembahasku juga, mereka rupanya satu perkumpulan Best Friend Forever (BFF) gitu 😀

***

Saatnya aku bimbingan dengan ibu dosen yang baru, so far sih ibu ini cakep, tapi sudah bersuami :D. Ternyata ibu ini baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di Jerman, pantesan aja tidak pernah keliatan di kampus. Pada saat aku bimbingan dengan ibu dosen yang baru ini, BFF  lagi pada ngumpul juga, dan dosen pembahasku tepat duduk di sampingnya, karena ibu dosen ini baru aja liat skripsiku yang manis dia langsung shock,  bingung. Tak di sangka si dosen pembahasku ikutan nimbrung dengan pembahasan skripsiku :

Dosen Pembahas  “heii kamu kan mahasiswa yang tentang bumbu masakan itu ya, bagaimana    dengan hasil penelitian bumbu-bumbunya, sudah siap?”

Aku  “emmm sudah buk #SenyumMaksaKetakutan”

Dosen Pembimbing  “lohh ibu ini pembahas kamu ya Reza. Pas banget ini, buk kayak mana skripsi si Reza ini, saya baru pertama kali liat sudah bingung.”

Dosen Pembahas   “Mana sini biar kakak liat skripsi si bumbu ini…..” Lohh ini kok seperti ini, analisisnya kalo seperti ini gak bisa digunakan, bla bla bla bla bla, kenapa si ibu *** ngasi kamu bimbingan seperti ini, wahh parah ini *Sudah Puyeng, gak ngerti sama sekali ibu dosen ini bicara  apa pufftt”

Aku “ini gimana jadinya buk, si ibu *** sudah pergi ” *Muka Sudah Melas

Dosen Pembahas  “Kalo seperti ini kamu tidak akan bisa dapat hasilnya, kamu harus ganti judul, dan ubah dari awal, latar belakang, hipotesis dan bla bla bla”

GUBRAKKK JACKPOT matik guekk si ibu ini dosen  langsung nyuruh ubah judul huaaa

Aku  “gann tiii judul buk ? apa gak bisa dirubah aja analisisnya atau ganti data variable dan data saja buk? Kalo begiini saya harus ikut seminar proposal lagi buk?”

Dosen Pembahas “gak bisa, ini diganti gimanapun tetep hasilnya bakalan error, blab la blab la, dan kamu gak perlu ngulang seminar proposal lagi”

Begitulah percakapan panas di ruang prodi, muka sudah bingung seharian kepikiran dan  bikin stress. Hidup di Banda Aceh emang keras 😀 . Sambil memendam rasa putus asa aku jumpain bapak dosen pembimbing I dengan alasan semoga dapat belas kasihan dari si bapak ini, dan ternyata beliau menyuruhku untuk mengubah judul yang paling gampang dan judul sejuta umat di kampusku. Tentang si pendapatan bumbu masak itu aja, sedikit lega dan termotivasi lagi. Hanya butuh waktu seminggu membuat skripsi dengan judul ini, dan waktunya bimbingan lagi. First step aku jumpain  ibu dosen pembimbing ke-II “yahh ini kan gampang kali, terus ini kayak ngitung-ngitung biasa pakek calculator juga bisa, coba deh kamu tambah pakek SWOT”. “tapikan buk, ini bapak dosen pembimbong I yang nyuruh” sambutku. “yaudah kamu coba tanyak sama bapak, bagaimana bagusnya jika memakai SWOT”. Ketika aku menjumpain bapak dosen I, beliau setuju dengan tambahan judul SWOT. Ah si bapak kemarin bilang begini, sekarang bilang begitu, tidak konsisten. SWOT ini judul deskriptif banget, bisa sampai ratusan lembar skripsiku, karena harus jelasin sedetail-detailnya. Argggg kenapa harus ada dua pembimbing, yang satu minta begini, yang satu lagi minta begono, yang korban mahasiswa..puffttt

***

Pulang ke kosan muka suntok, capek, marah, emang mentalku sekarang lagi di uji #Semangat. Jadi ingat beberapa quote yang aku temukan di internet kemarin “Tuhan aja menguji umatnya sesuai dengan batas kemampuannya” haha :D. Seperti biasa kalau sudah di kosan, yah kerjaannya di depan PC, sambil baca-baca forum “Backpacker”, dan sedikit mulai kepikiran jalan-jalan. “mending jalan-jalan dulu deh, mana tau dapat pencerahan” #Heart.  Iseng-iseng cari tiket murah ke Jakarta (yahh maklum belum pernah keluar dari pulau Sumatera, yah inginnya sih liat Pulau Jawa ). 

Pencarian pun dimulai. Sekarang banyak sekali maskapai penerbangan yang berlomba-lomba berbasis low cost. Tidak heran sampai ada yang menawarkan promo Rp.0 . Mereka tidak bohong, memang harganya Rp.0, tapi ada biaya plus plusnya, bisa jadi lebih mahal dari harga tiketnya, jadi sebelum hunting tiket, kita harus smart dalam memilih dan mencari tiket promo, jangan sampai tergiur sama promo yang murah tapi banyak tambahannya. Mulailah buka website salah satu maskapai penerbangan low cost, cari penerbangan untuk satu hingga dua bulan kedepan, hmmm harga masih tinggi untuk ukuran budget traveler. ganti pencarian untuk 7 bulan kedepan, dan WOWWWWW ada harga Rp. 150.000 tujuan ke Jakarta, yang pasti ada plus plus jadi totalnya Rp. 210.000 no bagasi. Ini suatu kebetulan, aku lagi  searching tiket dapat yang promo. Semangatku langsung menggebu-gebu dengan tiket promo ini. Tapi Rp. 210.000 itu sangat berarti juga buat anak kosan. Jika di pikir-pikir bisa di pakai untuk makan 3 minggu malah...#cling #cling *i have idea yeaa hahaha. Kebetulan om ku owner agent travel pada saat itu, sepertinya bisa dua kali pembayaran nih alias kredit, aku ini keponakannya yang sungguh baik hati. Aku telpon si om. Setelah pembicaraan panjang, dia memberiku 2 kali pembayaran, dan langsung di minta data lengkap, nama, no KTP, tgl lahir, yea i did . Tapi aku belum menentukan kapan akan pulang, dikarenakan belum ada tiket promo untuk kembali. Yang pasti mungkin dalam sebulan akan mengelilingi pulau Jawa 😀

***

Senang dapat tiket murah, bayar nyicil pula :D. Beberapa menit kemudian, si om message “mi, tiketnya sudah di issued ya” Horee Horee  Horee #UntukSejenakLupaSkripsiLangsung buka maps, wahh ini aku tidak hanya stuck di Jakarta aja, tapi bisa ke Bogor, Bandung, Jogja, Malang, jika perlu sampai ke Surabaya. Aksesnya gampang tinggal naik Kereta Api, apalagi sekarang KA-nya sudah bagus, dan bersih. Tidak ada pengamen dan pedagang yang jualan di dalam Kereta.

Step kedua langsung searching di mbah Google. Mencari informasi masing-masing kota yang bakalan aku kunjungi. Kebetulan di setiap kota ada teman dekat ketika SMA. Jadi ada tempat tinggal gratis di kosan mereka, semoga di izinkan. Setelah seharian penuh, akhirnya terkumpulah semua informasi untuk traveling di pulau Jawa. Suasana hati pun kembali normal untuk sejenak, karena seharian ini batinku sudah tersiksa oleh mereka-mereka itu haha. baiklah ini sudah kepanjangan, kita lanjut di part III yooo

Bersambung ke part selanjutnya

Advertisements