“Singapura Adalah Kunci Kita”

Akhirnya hari yang kami tunggu-tunggu pun datang “16 Agustus 2014”. Semua dokumen sudah lengkap, paspor, bookingan hotel, pesawat, dan beberapa paket wisata sudah di pesan, dan hari ini pun tiba, it’s time to go aboard. ABC Adventure “Into The SEA” (Southeast Asia) begitulah kami menyebutnya. Delapan bulan kami mempersiapkan diri untuk menjelajahi beberapa negara di Asia Tenggara. Tapi sangat di sayangkan beberapa di antara kami tidak ikut traveling kali ini, di karenakan tidak keluarnya izin cuti kerja dan beberapa hal yang tidak bisa di tunda. Tetapi hal ini tidak mengurangi rasa semangat kami untuk tetap mengarungi negara-negara tetangga Indonesia ini. Para ABCers yang bertahan hanya tinggal 10 dari 15 orang, mereka adalah Wiwin, Aam, Saiful, Fahri, Agung, Putra, Ikram, Alhadi, dan Fadil yang sebelumnya membatalkan diri untuk ikut trip ini, karena harus interview kerja di salah satu media terkemuka yang bertepatan di Medan juga, tapi di hari saat interview, pengumuman sudah di tempel, beberapa lembar kertas yang di tempel di depan pintu tidak ada menyebutkan namanya, sehingga dia memutuskan untuk pergi bersama kami.

***

Jumat, 15 Agustus 2014. “kami sudah hampir sampai di Medan, jangan lupa jemput kami ya”. Begitulah saut teman-teman di group Whatsapp. Minimnya jadwal penerbangan International dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), memaksa kami harus ke Medan terlebih dahulu sebagai assambling point, karena untuk menuju negara Singapura, Kota Medan lah yang paling dekat sebagai first flight kami. Kehebohan sudah terlihat ketika teman-teman sampai di rumahku, ya begitulah mereka, bertahun tahun aku berteman dengan meraka pasti suasana akan selalu heboh dan kompak. Ibu ku menyambut hangat kedatangan mereka, dengan hidangan yang sebelumnya sudah aku pesan ke ibu untuk memasak menu favoritku.

Hari jumat yang harusnya kami jadwalkan untuk bersantai dan hang out di kota Medan, yang akhirnya harus menghabiskan waktu di Money Changer, kami semua sepakat untuk menukarkan uang di Medan karena kurs yang lebih bagus dari Banda Aceh dan ada beberapa mata uang yang tidak tersedia di Money Changer Banda Aceh. Begitu banyak uang yang kami tukarkan sehingga membuat kasiernya bingung dan kewalahan. Penghitungan uang pun belum selesai sampai waktu menujukan pukul 18.00, semua hal yang sudah terjadwal akhirnya berubah. Kami hanya duduk santai di seputaran Merdeka Walk , sambil menunggu dua teman lagi dari Bandara Kuala Namu yang akan sampai di Stasiun Kereta Api Medan.

Sabtu pagi ini semua sibuk dengan last packing, yang paling penting adalah seluruh dokumen, tiket, dan paspor sebagai syarat kami sebagai syarat penting untuk memasuki negara tetangga. Pagi ini di sambut dengan cuaca yang kurang baik, berkabut dan hujan rintik-rintik. Berharap tidak adanya delay ataupun cancel dari pihak maskapai, karena akan membuat semua schedule yang sudah di susun akan terganggu. Selama perjalanan menuju Bandara Kuala Namu, aku selalu mengingatkan teman-teman agar tetap tenang dan tidak panik ketika memasuki imigrasi negara manapun, terutama adalah Singapura, sebagai gate utama kami masuk nantinya. Negara ini sangat ketat untuk urusan imigrasi, apalagi hampir rata-rata dari mereka ini adalah perjalanan perdana ke Luar Negeri, jadi paspor masih polos tidak ada stempel sebagai referensi perjalanan.

Kuala Namu International Airport

Macetnya proses check in di Bandara Kuala Namu membuatku semakin takut akan hal ini, saat proses check in di counter Value Air, semua paspor kami di tahan. Dan aku sebagai leader saat itu di panggil oleh pihak maskapai. Mereka menanyakan banyak pertanyaan, dan salah satunya adalah paspor yang masih kosong. Mereka terus mempermasalahkan hal ini, sampai pihak maskapai menelpon counter pusat untuk masalah tersebut. Hal ini  membuatku tidak tenang.

“Emang ada apa dengan kami, apa ada masalah?” aku mulai bertanya.

“Banyak yang akan di permasalahkan ketika kalian sampai di Singapura, apalagi ada beberapa orang ini adalah perjalanan perdanan ke Luar Negeri, apakah kalian tahu kalau sekarang ini pihak Changi Airport sangat ketat dalam proses memfilter para imigran dari Indonesia, berapa hari kah kalian di Singapura?” pejabat Value Air menanyakan kembali.

“kami hanya stay satu malam saja di Singapura, keesokan harinya kami akan menuju Phnom Penh, Kamboja” jawab ku kembali

“Ohh berarti kalian tidak hanya ke Singapura saja ya, kemana sajakan tujuan kalian, dan berapa hari kalian akan berpergian nantinya, dan apakah semua dokumen sudah lengkap, beserta penginapan?”

Pertanyaan bertubi-tubi ini seolah-olah menganggap kami sebagai traveler amatir yang baru akan go aboard, dan tidak akan tahu hal hal ini.

“tentunya, semua dokumen sudah lengkap, kami akan berpergian selama 12 hari dan mengeksplore beberapa negara Asia Tenggara di antaranya adalah Singapura, Kamboja, Thailand, dan Malaysia”

Aku membuka tas, dan mengeluarkan seluruh dokumen, yang berisi tiket pesawat yang saat itu kami masing-masing orang memiliki 5 tiket pesawat termasuk tiket pulang, hotel. Kemudian aku mulai menjelaskan rangkuman bagaimana traveling nanti.

“oke saya akan menjelaskan ini semua, hari ini kami akan menuju Singapura, kemudian kami akan terbang menuju Phnom Penh, dan ini (sambil menunjukan tiketnya) adalah tiket pesawat kami menuju Phnom Penh, next karena dari Phnom Penh – Siem Reap (Kota lain di Kamboja) tidak begitu jauh, jadi kami hanya menggunakan bus. Begitu juga dengan Pattaya, kami akan menggunakan bus saja, karena hanya 8 jam dari Siem Reap. Selanjutnya kami akan ke Bangkok, dan ini (kode booking hotel) hotel kami menginap, nah ini tiket domestik Bangkok-Phuket , kemudian ini tiket kami dari Phuket – Kuala Lumpur, dan yang ini (tiket pulang Kuala Lumpur – Banda Aceh) flight terakhir kami. Kami sudah memiliki dokumen lengkap ini semua”

Pihak Value Air senyap seketika aku menjelaskan ini semua, dan mulai menyusun semua dokumen kami satu per satu sesuai jadwal kami, kemudian di klip dengan rapi.

“nahh ini sudah saya susun dengan rapi, tiket ini sudah saya susun berdasarkan tanggal kalian pergi, jika di tanya imigrasi Singapura, tunjukan saja semua dokumen ini. terus berapa banyak kalian membawa uang?”

“5 juta” singkat ku

“5 juta (muka bingung dan seakan tidak percaya), apa ini cukup?” sontak pihak Value Air

“kami sudah memesan semua transportasi dan akomodasi selama disana, jadi uang ini hanya untuk makan dan oleh-oleh saja, dan kami juga masih ada uang di atm yang bisa di tarik kapanpun” jawabku sambil senyum seakan semua akan baik-baik saja, padahal 5 juta adalah uang mentok kami, tidak ada tambahan apapun.

Kemudian nama dan nomor paspor kami di catat dan di input ke dalam komputer.

“sudah saya masukin semuanya pak” jawab pejabat Value Air dalam pembicaraan telpon.

Aku bingung, apa yang sebenarnya mereka bicarakan, yang penting semua dokumen sudah lengkap, dan pihak maskapai sudah membolehkan kami untuk masuk ke waiting room. Saat itu hanya aku dan Fahri yang menghadapi pihak maskapai, sementara yang lain sedang shoping di Kuala Namu, kebetulan saat itu adalah hari menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia ke 69, jadi salah satu shoping center mengadakan promo buy 1 get 1. Aku menyuruh Fahri untuk memanggil teman-teman karena kami harus berdiskusi sebentar dengan masalah ini.

“guys kita adalah problem sedikit, pihak Value Air bla bla bla bla . . . . . . “ aku jelasin semua apa yang aku diskusikan dengan pihak maskapai tadi, dan aku terus memberikan nasihat agar tetap tenang dalam menghadapi petugas imigrasi

“Singapura adalah kunci utama kita, setelah lewat imigrasi ini, kita akan mudah masuk imigrasi negara lain, jadi tunjukan sikap kita sebagai traveler, jangan panik, jangan pucat, jangan gelisah, jika di tanya , jawab saja seperlunya” itulah kalimat terakhir yang aku kasih ke teman-teman sebelum masuk ke waiting room Bandara Kuala Namu.

Menuju Waiting Room

Menuju Waiting Room

“We just landed in Changi Aiport, please keep your seat belt until bla bla bla . . . . . . . ” yahh taunya sih itu aja, Englishnya ribet. Yups kami baru saja mendarat di Terminal 1 Bandara terbaik di dunia ini yaitu Changi Airport. Banyak sekali maskapai dari belahan dunia mana pun yang tidak pernah kami lihat. Rencananya kami akan berfoto dengan seluruh pramugari,akan tetapi melihat waktu yang berjalan dengan cepat, kami membatalkan untuk berfoto bersama dengan pramugarinya.

“nanti cari petugas imigrasi yang muka Melayu atau yang perempuan memakai jilbab” sautku ketika menaiki eskelator. Begitu turun dari eskelator, seorang bapak tua menarik kami untuk memasuki ruang khusus, sementara turis yang lain mengantri di foreign passpor. Aku bingung, apa ini, kenapa hanya kami yang di asingkan seperti ini.

“Za, kau kemarin ada kek gini” ucap Wiwin

“aku gak ada masuk-masuk gini loh, apa mungkin karena kita Indonesia?” jawabku

Seorang petugas wanita Melayu mendatangiku sambil membawa selember form yang harus diisi. Dia mengeluarkan pulpen dari saku bajunya, kemudian menulis INDON di bagian kertas ku, sontak aku terkejut dan rasanya ingin membentak wanita ini, kalau kami ini Indonesia not INDON. Tetapi posisi kami ini adalah pendatang, jika kami membuat keributan, bisa jadi kami langsung di deportasi, jadi hanya memendam rasa itu. Sebelumnya aku pernah memasuki Singapura, tetapi tidak pernah harus mengisi form ini. Ketika form selesai diisi, Wiwin langsung memberikan form tersebut ke petugas, dan petugas marah-marah dengan bahasa Singlish (Singapore English) yang aku juga tidak begitu mengerti apa yang dia katakan, intinya kalau hanya pelancong tidak perlu mengisi form ini. Form ini hanya untuk kunjungan seperti exchange student, atau family, atau ada event sebagai peserta. Ternyata baju yang kami gunakan sama, baju bertuliskan ABC Adventure “Into The SEA”, mungkin karena ini kami langsung di giring menuju ke ruangan tersebut, mereka menyangka kami ini satu group dalam kunjungan pelajar ke Singapura. Setelah keluar dari ruang tersebut, kami langsung memasuki barisan foreign passpor.

IMG20140816130217

Imigrasi Terminal 1 Changi Airport

Tiba saatnya kami mengantri di imigrasi Singapura, antrian sangat panjang, ini menandakan banyak nya turis yang menuju negara ini sebagai destinasi liburannya. Saat itu yang aku takutin adalah Ikram, terlihat ketika sampai di Changi, muka pucat dan ketika antri selalu berpindah-pindah mencari tempat yang nyaman, seolah-olah akan takut menghadapi petugas imigrasi. Tiba giliranku memasuki imigrasi, dan petugasnya adalah orang Melayu, tetapi tetap saja, yang namanya petugas imigrasi itu selalu mukanya jutek, menakutkan. Dan dia hanya melontarkan satu pertanyaan saja “berapa hari kat sini?” , “esok dah flight ke Phnom Penh” , tanpa menanyakan kelengkapan berkas, cap paspor memasuki Singapura pun tertempel, dan membolehkan aku untuk keluar dari gate imigrasi. Aku sangat beruntung karena, tidak banyak pertanyaan yang di lontarkan, mungkin karena cap pasporku yang sudah sering memasuki negara tetangga Malaysia, dan sudah pernah ke Singapura juga.

Ketika sudah keluar, aku tetap menunggu teman-teman lain yang masih antri, satu per satu kami sudah berhasil masuk, dan salah satunya Ikram, yang sebelumnya aku takut bagaimana dia akan menghadapi petugas imigrasi, ternyata sudah berhasil mendapatkan cap paspor. Tinggalah Fadil yang masih dalam antrian, dan ketika paspornya di scan petugas imigrasi, alarm pun berbunyi, mata kami tertuju sama Fadil, “ada apa, kenapa si Fadil” serentak semua bertanya. Fadil langsung di bawa sama petugas imigrasi ke ruang khusus. Hampir 30 menit kami menunggu, akhirnya Fadil keluar dari ruang khusus itu, kemudian mengulang scan paspor dengan petugas imigrasi yang sama dan di izinkan masuk.

“nama aku di permasalahkan sama mereka” jawab Fadil dengan muka tenang

“loh kenapa wak?”

“iya jadi jika nama kita hanya satu kata, itu akan menyulitkan mereka, karena nama Fadil bisa saja salah satu penjahat yang mereka cari, jadi aku tadi di suruh isi form gitu” lugas Fadil

Aku yakin Fadil bisa menghadapinya, karena dia memiliki English yang baik, jadi mudah untuk berkomunikasi dengan petugas imigrasi. Kami sudah berkumpul semua, dan Alhamdulillah semua aman, and Welcome to Singapura guys. Senyum lepas terpancarkan dari raut wajah kami yang sebelumnya harus ketakutan akan petugas imigrasi.

DSC00882

Suasan Pintu Keluar Imigrasi, Seperti Di Dalam Mall

Bandara ini sangat besar, banyak orang sibuk dengan penerbangannya, hingga ada yang berlari-lari mengejar penerbangan agar tidak terlambat. sungguh keadaan yang sangat jarang kami lihat. Terkadang sesekali kami menjadi pusat perhatian karena menggunakan baju yang sama, berjalan rapi dengan menggunakan tas carrier yang besar. Kedatangan kami juga di sambut hangat oleh Maskot Changi Airport yang saat itu menjadi pusat perhatian banyak orang untuk berfoto. Tak mau ketinggalan moment ini kami juga ikutan mengantri untuk foto bersama dengan Maskot Changi Airport ini.

DSC00878

Foto Dengan Maskot Changi Airport

Dengan predikat bandara terbaik di dunia pastilah bandara ini di lengkapi dengan publik transport yang lengkap, salah satunya adalah MRT. Untuk menuju Stasiun MRT Changi, kami harus ke Terminal 3, sedangkan kami sekarang berada di Terminal 1. Kami menggunakan SkyTrain yang menghubungkan antar Terminal di Changi, dan ini free. Teman-teman tak henti-henti melontarkan ucapan “ini keren mampos, sumpah gilak Singapur ini” yah begitulah kami, melihat negara orang yang begitu modern, rapi, dan bersih ini. Sebagai kenang-kenangan kami membeli EZ-Link di Stasiun MRT Changi dengan harga SGD 12 di mana terdapat SGD 7 saldo, dan SGD 5 lagi sebagai biaya adm kartu. Kartu ini bisa di gunakan ke seluruh transportasi publik selama di Singapura. Cara penggunaannya juga gampang, hanya tinggal men”Tap” ketika masuk dan keluar, dengan begitu saldo di kartu akan otomatis berkurang.

Tujuan selanjutnya adalah menuju ke penginapan, yang berada di kawasan Kallang. Sambil menaiki MRT aku melihat satu per satu wajah dari teman-teman. Wajah cerah penuh dengan semangat, meskipun beberapa di antaranya lelah membawa carrier yang cukup berat, tapi setidaknya dalam dua minggu kedepan mereka terlepas dari beban kerja dan kepenatan kegiatan sehari-hari. Ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku yang akan membawa mereka dan menjadi awal melihat dunia luar yang lebih luas untuk kami semua.

Baca cerita kami selanjutnya di “Sehari Menjelajah Singapura”

Advertisements