Sehari Menjelajah Singapura

Jarak antara Stasiun Changi dan tempat kami tinggal tidaklah jauh, yaitu di iBackpackers, Geylang Rd, dan dekat dengan Stasiun MRT Kallang. Setelah sampai di Stasiun Kallang, kami bingung harus kemana, karena tepat di Stasiun tersebut banyak persimpangan besar. Kami terus mencari Hostel ini dengan menggunakan peta yang sebelumnya kami ambil di bagian informasi Changi Airport.

Penginapan kami berada di Geylang Rd Lr 1, sepanjang jalan Geylang, kami tidak ada melihat Lr 1. Sebelum pergi aku sudah mencari informasi tentang lokasi Hostel ini dengan menggunakan Google Maps, posisinya tepat di depan jalan besar, dan aku pikir ini cukup mudah untuk menemukannya. Setelah mutar-mutar di daerah Geylang kami tidak menemukan Lor 1, akhirnya kami bertanya kepada salah seorang warga setempat. Kamipun mengikuti seperti apa yang dibilang si warga tadi, dan melihat sign board Geylang Lr 13. Ternyata kami dikasih petunjuk yang salah oleh warga tadi. Kami memutuskan putar balik, tapi dengan jalan yang berbeda. Saat itu terlihat banyak sekali warga Singapura memakai baju club sepakbola Juventus menuju Stadiun. Kami saling menatap seakan memikirkan sesuatu,

“Ohhh yaa, hari ini kan Juve ke Singapur” sahut Putra dan Wiwin, yang memang mereka suka dengan dunia sepakbola.

“hari ini jadwal latihan orang ni wee, besok baru tanding, yok nonton aja” Putra

“ahh gilak kau lek, mahal kali tu” jawab Wiwin

Di depan Stadiun ini kami melihat banyak Hostel, dan melihat salah satu alamat hostel, Geylang Rd Lr1.

“Hostelnya sekitaran sini, coba cari nama iBackpackers Hostel” Aku sambil memperhatikan nama-nama Hostel.

“ini Hostelnya za” jawab Seipol , “tapi ini namanya idealBackpackers” bantah Alhadi,

Aam “coba cek no telponnya, sama apa gak”

“yaudah kita cek aja dulu ke dalam, kita tanya resepsionisnya” jawab Agung

Setelah masuk, ternyata kedatangan kami sudah di tunggu oleh pihak Hostel. Ternyata iBackpackers itu kepajangan dari IdealBackpackers. Penginapan ini kami pesan jauh hari sebelum kedatangan, di website asiarooms.com, dan harganya termasuk murah, SGD15 dengan tipe kamar dormitory. Proses check in cukup lama, karena paspor kami harus di scan satu per satu. Kamar di bagi menjadi 2 ruangan, masing masing kamar diisi oleh 5 orang. Fasilitasnya lumayan bagus, di kamar terdapat tivi, AC. Kamar mandi terletak diluar, dan jumlahnya ada sekitar 8 kamar mandi.

***

Tujuan pertama adalah Universal Studio Singapore (USS). Banyak orang bilang, kalau belum foto di USS, berarti belum  sah ke Singapura. Sebelumnya aku sudah menjelaskan ke teman-teman bagaimana cara membaca maps MRTnya, jadi ketika menuju ke USS, mereka sudah bisa membaca Mapsnya. USS berada di  Pulau Sentosa yang di hubungkan langsung dengan Vivo City Mall. USS pertama kali di buka pada tahun 2010, dan ini merupakan wahana bermain Universal Studio pertama di Asia Tenggara, dan yang kedua di Asia, sebelumnya yang pertama berada di Jepang. Untuk memasuki wahana bermain di USS dikenakan biaya sebesar SGD74 untuk dewasa, akan tetapi jika hanya ingin berfoto di bola dunia Universal Studio, kita hanya perlu bayar di pintu utama pulau Sentosa sebesar SGD1, karena letak bola dunia ini hanya berada di perkerangan luar dari wahana bermain utama. Banyak sekali orang yang befoto di bola Universal ini, jangan heran kadang kamu akan di mintain untuk mengambil foto orang yang ingin berfoto disini. Tak mau ketinggalan momen, kami juga menyempatkan diri berfoto bersama di bola Universal ini sebagai bukti sah sudah pernah ke Singapura.

 Universal

Di Pulau Sentosa ini juga terdapat patung replika Merlion, sedangkan yang aslinya berada di tengah kota Singapura yang berhadapan langsung dengan Marina Bay. Kurangnya waktu istirahat, membuat kami lelah dan istirahat di salah satu market Seven Eleven (Sevel) di USS. Sebenarnya lebih hemat membawa botol minum sendiri, karena beberapa tempat  menyediakan keran air minum gratis, dan kamu bisa mengisi ulang ketika sampai di penginapan, bandara, bahkan di taman bermain, ketimbang harus membeli air mineral di mini market Singapura, karena untuk membeli air mineral berukuran sedang saja harus mengeluarkan uang sebesar SGD1,2  dan untuk yang berukuran besar SGD3,6 atau sekitar Rp. 35.000. Sangat jauh berbeda dengan harga yang ada di Indonesia. Untuk yang sedang Rp. 3.000 dan yang besar Rp. 5.000.

DSCN1363

Dengan waktu yang cukup singkat, kami telah mengelilingi area luar Universal Studio. Mataharipun sudah mulai terbenam, waktunya menuju ke destinasi selanjutnya. Saat itu kami berada di Beach Station, yaitu stasiun paling ujung di Pulau Sentosa. Jarak menuju pintu exit cukup jauh dari sini, akhirnya kami memutuskan pulang dengan menggunakan Sentosa Express, yaitu Monorail yang menghubungan antar stasiun di Sentosa Island dan ini free, tapi sore itu adalah jam dimana semua pengunjung pulang, kami terpaksa antri panjang untuk menaiki Sentosa Express ini, hampir satu jam harus menunggu antrian. Untuk menghilangkan rasa kebosanan, kami sedikit membuat kehebohan di tengah-tengah antrian yang sangat padat tersebut. Yups tidak lain adalah “Selfie” di tengah keramaian, tanpa memikirkan rasa malu, tongkat narsis (Tongsis) kami menjulang tinggi di tengah padatnya antrian. Para pengunjung yang lainnya tersenyum, tertawa dan bahkan ada yang mengikuti melakukan selfie. Tak lama kemudian kami sudah berada di barisan paling depan dan siap untuk menaiki Monorail. Petugas Monoraailnya sangat tegas, bagi pengunjung yang menginjak Yellow Line (batas untuk memasuki pintu Monorail) sedikit saja, maka akan di marahi, meskipun jarak antara Yellow Line dengan pintu masuk Monorail masih jauh.

Selfi Antrian Sentosa Express

Selfi Antrian Sentosa Express

Malam hari, kota Singapura berubah menjadi kota yang sangat eksotis. Bagaimana mana tidak, sepanjang jalan terlihat lampu yang terang menderang, dan gedung-gedung pencakar langit berhiaskan lampu berwarna-warni. Aktifitas warga Singapura juga semakin ramai. Melihat di sekeliling gedung, banyak sekali restoran. Seorang waiter menyodorkan selember menu makanan, bukan makanan yang aku lihat, tapi langsung melihat harganya. Dalam hitungan detik menu tersebut langsung aku kembalikan ke waiternya “thank you” sambil senyum rapat 😀

Capek mengelilingi daerah Bugis, akhirnya makan di KFC Bugis Junction. Dari sekian banyak menu di KFC, hanya satu paket makanan dengan menggunakan nasi, dan yang lainnya kebanyakan menu burger, dan kentang. Meskipun tidak ada label Halal, tapi kami melihat beberapa wisatawan menggunakan kerudung makan di KFC ini, dan daftar paket tidak tersedia “Pork” (Daging Babi). Kami memesan paket Zinger Chicken Rice yaitu Nasi + Chicken Nugget + Soup Kentang + Soda seharga SGD6 atau sekitar Rp. 58.000 T.T, harga yang cukup fantastis untuk sekali makan, kalau di Indonesia sudah dapat nasi bungkus pakek Rendang 3 bungkus. Untuk setiap pembelian akan diberikan bon pembelian dan berisikan username-password wifi jika ingin di menggunakan wifi. Sambil makan, update status pastinya 😀

Perjalana selanjutnya ke pusat kota Singapura, tepatnya di segitiga jantung kota Singapura, Marina, Marlion, dan Singapore Flyer. Tempat ini adalah titik favorit wisatawan, yaitu berfoto diantara ketiga bangunan tersebut. Pemandangan yang begitu indah, membuat kami lupa satu sama lain, karena keasyikan berfoto, akhirnya kami terpisah. Aku bersama Agung, Fadil, Alhadi, Fahri, dan Seipol, sedangkan Wiwin bersama Putra, Ikram dan Aam hilang begitu saja. Kondisi badan yang capek membuat aku melampiaskan kemarahan ke teman-teman yang saat itu bersamaku, kami berenam memutuskan untuk meninggalkan mereka, dan mulai menelusuri pinggiran sungai yang diberada di Fullerton Hotel. Suasana semakin tenang ketika permainan laser dan lantunan ornamen musik di Marina Bay. Permainan laser ini dinamakan “The Light and Water Spectaculer” dan durasinya hanya 15 menit. Atraksi ini diadakan pada hari Minggu – Kamis jam 8.00PM dan 9.30PM. Jumat – Sabtu pada jam 8.00PM, 9,30PM dan 11PM. Tempat ini sangat direkomendasikan jika ingin ke Singapura, dan menikmati ketenangan di Singapore River. Jika memiliki uang lebih, kita bisa melihat pertunjukan ini sambil dinner di restoran-restoran yang berada di sepanjang Singapore River.

Kami terus berjalan menelusuri tepi Singapore River, dan sampailah di simbol negara ini, pantung Merlion. Patung yang berkepala Singa dan berbadan Ikan ini memiliki berat 70 ton dan tinggi 8,6 meter. Sebenarnya patung ini letaknya berada di Merlion Park, tapi pada tahun 2002 untuk memperbaiki infrastruktur Singapura, maka di pindahkan ke seberang Fullerton Hotel. Kepala singanya melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.

Malam hari, tempat ini juga tak kalah ramainya. Banyak wisatawan yang berfoto dengan berbagai gaya yang menarik, dan gaya yang paling diminati adalah gaya “Mengangap”, dengan mulut mengangap terbuka seolah-olah air yang di mancurkan dari patung Merlion masuk ke dalam mulut. Waktu hampir menunjukan pukul 23.00, kami beristirahat sebentar di area patung Merlion ini, sambil menikmati pemandangan lampu-lampu kota Singapura. Tiba-tiba saja terdengar suara orang memanggil namaku.

“oii Za” , aku masih mencari sumber suara tersebut, sementara teman yang lain asik berfoto bersama patung Merlion. dan panggilan itu datang lagi “oii Za” , ternyata suara itu datang dari jembatan Esplanade. Aku terus mencari titik fokus suara tersebut, karena banyak sekali orang yang melewati jembatan itu, dan aku melihat sebuah lambaian tangan dari dua orang, mereka adalah Wiwin dan Aam, yang diikuti Putra, dan Ikram di belakangnya. Ternyata kami terpisah berlawanan arah, mereka memutar mengarungi Singapore River dan melewati Marina Bay, kemudian menyebrangi jembatan Esplanade yang menghubungkan langsung ke Merlion. Akhirnya kami berkumpul kembali, sambil bertukar cerita yang terjadi tadi, terlihat sekelompok orang bersepeda dekat dengan patung Merlion, sepertinya mereka baru saja selesai bersepedaan dan sedang beristirahat.

Kami mencoba melakukan pendekatan, sekedar ingin tahu bagaimana informasi komunitas sepeda mereka. Kami memulai percakapan terlebih dahulu, dan memperkenalkan, bahwa kami juga adalah komunitas sepeda “Atjeh Bicycle Community”. Suasanapun semakin mencair, dan akrab. Pembahasan tidak jauh dari seputaran sepeda. Di akhir cerita kami meminta tolong mereka untuk menunjukan jalan pulang ke Hostel, karena saat itu hampir menunjukan pukul 00.00, dimana transportasi publik sudah tidak beroperasi lagi, Kereta Api terakhir adalah pukul 23.00, dan harapan kami adalah naik bus atau taksi. Mereka menyarankan menaiki bus karena haltenya juga tidak begitu jauh.

Foto Bersama Komunitas Sepeda Singapura

Foto Bersama Komunitas Sepeda Singapura

di “Halte”

Kami terasa aneh, kenapa bus tidak berhenti disini, semua bus lewat begitu saja. Setelah liat sign boardnya ternyata ini adalah tempat pemberhentian taksi T.T , panteslah satupun bus tidak ada yang berhenti disini. Ternyata ada dua halte, yaitu halte bus dan halte taksi. Padahal saat itu sudah tengah malam dan lalu lintas juga sunyi, tetap saja bus tidak berhenti di halte taksi. Mungkin ini menjadi salah satu alasan mengapa negara ini begitu maju, memberdayakan tertib dimanapun. Kami pindah ke halte sebelah yang bertandakan “Bus Stop” . Ada seorang berpakaian kantoran yang saat itu berada di halte bus, dia memakai bet nama bertulisakan “Juventus Official”. Aku menebak orang ini adalah salah satu panitia penyelenggara pertandingan Juventus yang besok akan di laksanakan di Stadiun Nasional Singapura. Kami memulai pembicaraan menanyakan bus ke arah Geylang, dia menyarankan menaiki bus 110 *kalau tidak salah , “tapi kalau jam segini sepertinya tidak ada bus lagi ke daerah Geylang, mending naik taksi aja”, jawab pekerja tadi. Kamipun kembali lagi ke halte taksi yang tempat kami berhenti pertama, yang berjarak sekitar 30meter dari halte bus. Baru setengah perjalanan menuju halte taksi, mata kami semua tertuju sama satu bus yang dari kejauhan, nomornya terlihat samar-samar, dan ketika bus melewati kami, terlihatlah nomor “110” dan berhenti di halte tempat kami bersama laki-laki tadi. Kami saling menatap yang berteriak “Itu Busnya”, baru saja mau mengejar, bus tersebut langsung pergi. Sama bus aja bisa di PHP-in, sakitnya tuh disini #TunjukDada T.T

“Di Halte Taksi”

Taksi di Singapura beroperasi 24 jam setiap harinya. Banyak jenis taksi mulai dari Hyundai hingga Mercedes-Benz. Di lihat dari tipe taksinya bisa di bayangin tarifnya berapakan, makanya kami tidak ingin naik taksi selama di Singapura, tapi dengan kondisi seperti ini terpaksa harus naik taksi, dan naik taksi juga harus antri. Ternyata pagi dini hari, warga Singapura ramai juga menggunakan taksi. Kami belum mengerti cara menaiki taksi disini seperti apa, apakah bisa di tawar atau ada argonya, jadi kami mengantri di bagian paling akhir sambil melihat cara warga Singapura menaiki taksi, tapi anehnya mereka banyak yang menggunakan taksi Mercedes-Benz, pikiran kami saat itu adalah, pasti orang kaya yang menaiki taksi itu. Sampailah kami di barisan depan antrian, yang di ikuti beberapa orang di belakang kami. Karena belum tahu berapa tarif taksi disana, maka kami akan memilih taksi yang paling jelek, dengan asumsi, jelek pasti tarifnya murah. Beberapa kali taksi Mercendes-Benz berhenti di halte, tapi kami mengabaikannya, sampai salah seorang warga yang di belakang kami marah. Melihat kami seperti orang Melayu, diapun marah menggunakan bahasa Melayu.

“hey korang ni tak nak naik teksi kee?”

“bukan macem tu cek, kita tak nak naik yang macem ni *sambil nunjuk taksi Merci*, sebab dia mahal” jawabku

“Halah semua teksi sama je kadarnya (kadar = tarif), mahu Hyundai, Merci, Honda, sama je lah” Sambil naik taksi Merci yang berhenti di depan kami tadi.

kami saling berhadapan lagi, dan sambil cengengesan #TepokJidad

Tak lama kemudian taksi Hyundai dan Mercendes-Benz berhenti di depan halte, kami langsung menaiki taksi tersebut. Ternyata jarak antara halte dengan penginapan kami tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit sudah sampai dan tarifnya juga murah, SGD 8,7 share untuk 5 orang. Kalau tahu begini, dari tadi kami sudah naik taksi, dan tidak akan di PHPin sama bus hahaha. Sampai di penginapan, kami packing kembali dan semua memasang alarm pukul 02.30. Waktu istirahat hanya sebentar, karena pukul 06.00 pagi kami harus melanjutkan penerbangan menuju Phnom Penh-Kamboja, aturan dari maskapai di Changi adalah 2 jam sebelum keberangkatan harus sudah check in, dan paling tidak perjalanan menuju bandara sekitar 1 jam, berarti pukul 03.00 kami harus sudah check out dari hotel menuju ke Changi Airport, dan sekarang sudah hampir pukul setengah dua. Setelah packing, semua tertidur pulas, kecuali Fadil yang saat itu begadang sambil menyelesaikan laporan kerjaan dan dia membangunkan kami tepat pukul 03.00. Kami menuju resepsionist untuk check out dan memanggil taksi di depan hotel menuju Changi Airport dengan tarif SGD 20/5org. Sampai di Changi kami langsung check in agar bisa masuk dan istirahat di waiting room.

***

Bandara masih sangat gelap saat kami berada di waiting room, terlihat beberapa pesawat melakukan take off. Ketika masuk pesawat juga harus antri, jadi petugas pesawat akan memanggil urutan bangku mulai dari 1-10, 11-20 dan seterusnya. Banyak seat kosong sehingga kami bebas memilih duduk dimana saja. Penerbangan kami hari ini menggunakan maskapai Tigar Air. Cuaca hari ini pun sangat baik. Ketika tanda melepaskan seat belt sudah dimatikan, perlahan aku membuka jendela pesawat dan melihat matahari mulai terbit, aku tak lupa untuk mengabadikan momen ini. Penerbangan yang menghabiskan waktu 120 menit ini, kami manfaatkan untuk istirahat mengisi energi sebelum menjelajah kota yang penuh pembantaian oleh Khmer Merah yang di pimpin oleh Pol Pot, yaitu Phnom Penh-Kamboja.

Sunrise

Sunrise

Berikut adalah pengeluran selama di Singapura

  • EZ-Link Card              Sgd12
  • iBackpacker Hostel    Sgd15
  • Sentosa Island Ticket Sgd1
  • KFC Zinger Chicken   Sgd6
  • Mineral Water + Roti  Sgd10
  • Taxi to Hostel              Sgd1,74
  • Taxi to Airport             Sgd4              +
  • Total                           Sgd49,74 x Rp. 9.800 (kurs Rupiah saat itu)  = Rp. 477.652

Baca Juga Cerita Kami Selanjutnya di Wisata “Hell On Earth” di Phnom Penh

Advertisements