Wisata “Hell On Earth” di Phnom Penh

“Teng….” Suara pemberitahuan dari awak kabin pesawat.

“Ladies and Gentleman, shortly we will landing at Phnom Penh International Airport. We invite to you to return to your seat, and please fasten your seat belt, upholding the back of the chair, closed and locked the little tables that are still open in front of you”

Pertanda sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh. Dari kejauhan terlihat aliran air yang berwarna kecoklatan, dan berdiameter besar. Aku menebak ini adalah aliran Sungai Mekong yang merupakan salah satu sungai utama yang ada dunia, bagaimana tidak? Sungai ini membentang dan mengalir di enam negara, diantaranya China, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam.

Sungai Mekong

Sungai Mekong

“Ladies and Gentleman, welcome to Phnom Penh, we have landed at Phnom Penh International Airport, we invite to you to remain seated until the plane was actually stopped perfectly in place and wear a seat belt sign lights extinguished. the time difference between Singapore and Phnom Penh is 1 hour longer. On behalf of Tiger Air and the whole crew on duty said goodbye and hopefully be able to meet again in the Tiger Air flight later. Before leaving the plane, we remind you again to you to re-examine your cabin baggage so that there are no items left behind. The passengers with flight continued to report on the our service counter. Thank you”

Setalah dua jam penerbangan, akhirnya sampai juga di Phnom Penh. Ini adalah penerbangan kedua kami, yang sebelumya gagal foto dengan flight attendant JetStar di Singapura. Kami menunggu sampai semua penumpang benar-benar turun, setelah itu meminta izin untuk berfoto bersama, dengan senang mereka menerima permintaan kami.

Foto Bersama Pramugari Tiger Air

Foto Bersama Pramugari Tiger Air

Bandara ini mengingatkan aku dengan Bandara Polonia Medan. Begitu masuk gedung bandara, langsung terlihat petugas imigrasi yang sudah siap menunggu penumpang kedatangan internasional. Sebelum memasuki imigrasi, semua penumpang wajib mengisi kartu Departure dan Arrival yang berisi segala informasi selama kita di Phnom Penh, mulai dari lama menetap, hingga alamat penginapan. Dalam pengisian kartu, kami harus bergantian menggunakan alat tulis yang saat itu minim jumlahnya. Tiba-tiba saja seorang petugas imigrasi mendatangi kami, dan mempersilahkan masuk, sedangkan kami belum siap mengisinya. Ternyata kami adalah penumpang terakhir yang akan memasuki imigrasi, dan sudah di tunggu-tunggu dari tadi. 😀

Pengisian Kartu Departure dan Arrival

Pengisian Kartu Departure dan Arrival

Petugas imigrasi tersenyum dan menyapa dengan sopan kedatanganku. Seperti biasa, petugas imigrasi menanyakan hal-hal mendasar, tujuan kemari, berapa lama, apa sudah booking penginapan. Tanpa ada masalah, passpor langsung di cap, dan di persilahkan keluar. Hal yang sama juga terjadi dengan teman-teman yang lainnya. Seperti yang aku katakan sebelumnya “Singapura Adalah Kunci Kita” setelah itu akan mudah memasuki imigrasi manapun di negara ASEAN.

Phnom Penh adalah ibu kota dari negara Kamboja, segala pusat pemerintahannya berada di kota Phnom Penh. Negara Kamboja terkenal dengan sebutan “Hell On Earth” karena pernah terjadi pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat Kamboja oleh Rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an. Khmer sendiri adalah sebutan untuk rakyat Kamboja, sedangkan Khmer Merah adalah cabang militer Partai Komunis Kampuchea (nama partai penguasa Kamboja saat itu).

Kedatangan kami sudah di tunggu-tunggu oleh seorang supir Tuk Tuk (Transportasi khas Kamboja) yang bernama Nasir. Aku mengenalnya berdasarkan rekomendasi teman-teman dari Backpacker Dunia, bahwa Nasir adalah supir Tuk Tuk yang beragama Muslim dan bisa berbahasa Melayu, di forum juga tercantum nomor telepon sang supir Tuk Tuk. Dengan begini kami tidak akan kesulitan untuk berkomunikasi selama di Phnom Penh. Pertemuan kami di sambut dengan “Assalamualaikum” oleh Nasir sambil tersenyum dan menyapaku “Bang Reza kee?”. Akupun menyambut salamnya dengan hangat, betapa senangnya menjumpai Muslim di negara yang mayoritasnya adalah beragama Buddha. Aku mulai memperkenalkan teman-temanku dengan aksen Melayu.

Phnom Penh International Airport

Phnom Penh International Airport

Tuk Tuk yang digunakan Nasir, saat itu sedang under maintenance hahah 😀 , tetapi dia sudah menyiapkan dua Tuk Tuk yang siap mengantar kami satu harian ini. Kedua supir Tuk Tuk ini tidak lain adalah teman Nasir sendiri. Akan tetapi mereka hanya bisa berbahasa Kamboja saja. Jadi selama di Phnom Penh, Nasir akan menjadi tour guide dan translator kami. Untuk biaya sewa Tuk Tuk seharian kami mengeluarkan kocek sebesar $30/Tuk Tuk yang dapat di isi 4-5orang, itu sudah termasuk penjemputan kami dari Bandara menuju Hotel.

Tuk Tuk

Tuk Tuk

Dengan menggunakan Tuk Tuk kami minta diantarkan ke penginapan terlebih dahulu. Sepanjang jalan melihat aktifitas warga tidak begitu jauh dengan di Indonesia. Lalu lalang di dominasi dengan pengguna sepeda motor. Setelah memperhatikan lebih detail, aku merasa aneh dengan lalu lintasnya. Warga menyebrang dengan melihat kiri ke kanan, Bukankah menyebrang itu harus melihat kanan ke kiri?, dan untuk kendaraan yang berlaju lamban menggunakan jalur sebelah kanan. Aku memperhatikan mobil yang mendekat kearah Tuk Tuk kami, terlihat stir yang mereka gunakan sebelah kiri. Okay ternyata lajur kemudi di Kamboja adalah sebelah kanan, mungkin ini salah satu pengaruh jajahan negara Perancis.

Melihat dari segi infrastruktur bangunannya, ibu kota Kamboja ini masih sangat jauh dari beberapa kota besar Indonesia. Tidak ada terlihat satupun bangunan pencakar langit, hanya deretan ruko penjual saja dan beberapa gedung pemerintahan. Cuaca saat itu panas terik, dan berdebu akibat beberapa infrastruktur jalan utama yang rusak parah. Warga yang menggunakan sepeda motor terus melihat kami sambil tertawa-tersenyum, seakan heran melihat kami yang terus memfoto hal-hal yang menurut mereka biasa saja 😀

Lagi-lagi penginapan kami booking online via www.asiarooms.com yaitu Lucky Star Hotel, dengan harga 15USD/Room/Night dan dapat di share sekamar untuk dua orang. Penginapan ini termasuk murah dengan rate berbintang 3. Fasilitasnya juga sangat bagus, kamar ber-AC, Tivi, lemari, mini bar, dan bath up. Mata uang negara Kamboja adalah Riel Kamboja (KHR) tetapi keseharian mereka sering menggunakan mata uang Dollar Amerika (USD) daripada Riel. Jangan heran ketika berbelanja di mini market, terkadang mereka akan mencampurkan uang USD dan Riel sebagai kembalian belanja.

Lucky Star Hotel

Lucky Star Hotel

Setelah semua membereskan barang di Hotel, kami bergegas menuju Lobby menjumpai Nasir. Kami meminta untuk diantarkan ke rumah makan Halal, karena dari tadi subuh hingga sekarang tidak sempat untuk sarapan pagi. Nasir merekomendasikan makanan Halal Malaysia yang tempat dia berlangganan. Nasir yang menggunakan sepeda motor mengikuti kami dari belakang Tuk Tuk. Selama di Tuk Tuk kami menanyakan beberapa pertanyaan dasar sebagai pendekatan tentang si supir Tuk Tuk, akan tetapi dia hanya tersenyum manis saja, tanpa ada jawaban T.T, ternyata sedikitpun dia tidak bisa berbahasa Inggris.

Ah-Man Green Restaurant, Malaysian Halal Food. Itulah nama restoran tempat kami makan, terdapat label Halal di pamplet namanya. Makanan disediakan secara prasmanan, jadi kita tinggal memilih makanannya saja, akan tetapi untuk nasi goreng, harus dibuat terlebih dahulu. Citarasanya seperti masakan Indonesia, membuat kami berasa di Indonesia. Pemiliknya sendiri bukan orang Malaysia, melainkan Muslim Kamboja, tetapi sering kedatangan tamu asal Malaysia.

Ah-Man Green Restaurant

Ah-Man Green Restaurant

Untuk makan kami cukup membayar 6USD/orang, itu juga sudah termasuk pesanan Nasir, dan dua orang temannya. Perjalanan selanjutnya menuju Killing Field, yaitu ladang pembantaian massal yang mengakibatkan dua juta orang Kamboja terbunuh, kelaparan, dan terserang penyakit yang di lakukan oleh Khmer Merah yang di pimpin oleh Pol Pot. Perjalanan menuju Killing Field cukup lama, hampir 1 jam akibat rusaknya jalan yang kami lewati, berlubang dan belum ber-aspal. Tuk Tuk kami terpisah ditengah perjalanan, yang bersamaku ada Fadil, Putra, Fahri, Alhadi. Kami tidak bisa berkomunikasi langsung dengan supir Tuk Tuk yang hanya diam dan tidak menceritakan apapun selama perjalanan, membuat kami merasa bosan. Perlahan Tuk Tuk kami melambat dan berhenti. Si driver menelpon temannya, dan marah-marah gitu, perasaanku pasti ini sudah kelewatan, karena tempat yang kami lewati sudah sepi tidak ada lalu lintas kendaraan lagi. Tanpa merasa bersalah dan tersenyum si supir Tuk Tuk memutar balik arah. Spontan aku mengucapkan “nahhh kan benar kita tersesat” , timbulah ide gila mengerjain supir Tuk Tuk ini,

“ahhhh kau ini, bisa pula kau bawa kami kesasar jauh kali kemari, kek mana kau ini, gak ada minta maaf pulak itu kau, ahhh kecewa kami kek gini, gak mau lah kami bayar, matilah kau situ” Aku memakai bahasa Indonesia dengan logat Medanku yang kental, spontan teman-teman tertawa, dan ikut-ikutan. Tawa kami semakin terbahak-bahak, melihat si Supir ikutan tersenyum dan tertawa, tanpa mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Maaf ya pak kami tak bermaksud membully loh, cuma bosan aja 😀

DSC01166

Sampailah kami di Choeung Ek Genocide Center atau lebih dikenal dengan sebutan Killing Field. Teman-teman yang sudah terlebih dahulu sampai Wiwin, Agung, Aam, Ikram, Seipol, dan Nasir yang saat itu mengikuti mereka dengan sepeda motornya, sedang santai minum air kelapa yang dijual oleh pedagang setempat. Cuaca panas, dan hembusan angin begitu kencang, membuat kami mengantuk, apalagi kondisi kami yang kurang istirahat dan baru selesai makan, membuat kami tambah malas menggerakan badan untuk berjalan menuju Killing Field. Tapi kami tidak memiliki waktu banyak di Phnom Penh, kami hanya mempunyai waktu satu hari saja untuk mengelilingi kota Phnom Penh, karena besok pagi sekali harus berangkat menuju kota lainnya.

Main Gate Choeung Ek Genocide Center

Main Gate Choeung Ek Genocide Center

Untuk memasuki Killing Field, kita wajib membayar $6 dan mendapatkan satu buah radio pemandu yang dilengkapi dengan headset. Ada banyak bahasa tersedia di radio pemandu, akan tetapi Bahasa Indonesia belum tersedia sampai sekarang. Kamu bisa menggunakan Bahasa Melayu sebagai alternatif jika kurang memahami Bahasa Inggris. kamu juga bisa masuk tanpa harus menyewa radio pemandu, hanya cukup membayar $3 saja. Cara penggunaannya juga gampang, di setiap spot Killing Field, terdapat beberapa tempat yang diberikan angka , kita tinggal menekan angkat di radio pemandu sesuai dengan spot yang kita inginkan, kemudian akan terdengar suara orang yang akan menjelaskan tentang tempat tersebut.

Radio Pemandu (Audio)

Radio Pemandu (Audio)

***

Awal mula terjadinya perang saudara di Kamboja pada saat perang Vietnam tahun 1960an. Kerajaan Kamboja memilih untuk netral, tapi sayang, hal ini tidak dibiarkan oleh petinggi militer Kamboja. Sehingga petinggi militer Kamboja berusaha menyingkirkan Raja Kamboja yang saat itu adalah Norodom Sihanouk. Pasukan militer Kamboja di pimpin Jendral Lon Nol yang juga beraliansi dengan Pro-AS dan berhasil menyingkirkan Raja Sihanouk, dan menduduki tahta Kejaraan Kamboja, tetapi Raja Sihanouk tidak tinggal diam, dia mencoba untuk beraliansi dengan gerombolan Khmer Merah, yang bertujuan untuk menguasai kembali tahtanya yang direbut oleh Jendral Lon Nol. Tapi saat itu Khmer Merah juga ingin menguasi negara Kamboja, dan Pasukan Khmer Merah melaksanakan perang gerilya melawan rezim Raja Shinaouk dan Jendral Lon Nol. Pada bulan April 1975, Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan dan menjadi pemimpin Kamboja, kemudian merubah nama menjadi Republik Demokratik Kamboja.

Credit: Wikipedia

Credit: Wikipedia

Pol Pot yang berbasis petani atau orang-orang desa, yang sangat memusuhi orang-orang kota. Pada saat Pol Pot mulai menguasai kota, dia memerintahkan semua orang yang berada di kota, mulai dari Phnom Penh dan sekitarnya agar segera meninggalkan kota dengan alasan pesawat Amerika akan membombardir kota dan akan diperboleh kembali 3 hari kemudian. Tentara Khmer Merah yang kebanyakannya adalah petani, mulai melakukan razia dari rumah ke rumah untuk melanjutkan perintah Pol Pot. Suasananya yang sangat kacau membuat warga yang meninggalkan rumah belum sempat membawa barang-barang mereka. Bagi warga yang melawan akan langsung di bunuh tanpa ampun. Tentara Khmer Merah mulai menggiring warga kota menuju ke area pedesaan. Tentara Pol Pot juga memasang pengumuman yang berisikan, bagi tentara atau polisi pemerintahan Jendral Lon Nol, bisa mendaftar ulang di meja yang sudah disediakan,  dengan tujuan akan diberi pekerjaan dan di naikkan pangkat. Akan tetapi Ini hanya sebuah jebakan saja, karena mereka yang mendaftar malah  akan ditangkap sekeluarga dan dibunuh.

Ternyata obsesi Pol Pot, ingin negara Kamboja kembali di tahun Nol, yaitu rakyatnya hanya murni dari golongan petani saja, yang hidup dari bercocok tanam. Maka semua yang berbau kota, modern dan berpendidikan akan dihapusnya. Banyak orang yang dibunuh oleh Pol Pot karena tidak mengikuti sistem pemerintahannya ini, termasuk para kaum intelektual, dokter, guru yang merupakan pegawai pada saat pemerintahan Lon Nol sebelumnya. Biksu-biksu juga di bunuh karena tidak loyal dengan pemerintahnya, bahkan orang yang memakai kaca mata berarti orang yang suka membaca dan mempunyai intelektual tinggi juga ikutan di bunuh. Semua mayat-mayat ini di kuburkan secara massal di suatu tempat yang di namakan Killing Field.

Lahan yang memiliki luas 2,5ha ini, di temukan ada 126 lubang kuburan massal, dan baru 86 lubang yang digali. Dari hasil galian tersebut di temukan  sekitar 9.000 tengkorak laki-laki, perempuan dan anak bayi yang tidak tahu lagi identitasnya. Suasanya ketika memasuki Killing Field sangat hening, para wisatawan semua duduk diam mendengarkan radio pemandu di setiap posnya. Aku mulai berjalan sambil membawa peta yang sudah di bagikan oleh petugas sebelumnya.

Spot Nomor 1. Introduction. Pol Pot and Khmer Rouge march into Phnom Penh, 17th April 1975. Radio pemandu mulai menceritakan latar belakang Pol Pot dan Khmer Merahnya dalam membantai massal korban-korbannya, dan kita akan melihat sebuah “Memorial Stupa” yang memiliki tinggi 65 meter. Di dalamnya kita akan melihat lemari kaca yang memiliki tinggi 17 tinggkat yang berisikan tengkorak asli, tulang, gigi, alat eksekusi, sisa-sisa baju korban, dan banyak lagi. Stupa ini di bangun untuk mengenang korban yang telah dibunuh.

Stupa

Stupa

Spot Nomor 2. Truck Stop. Him Huy, Khmer Rouge Guard and Executioner. Dahulu ditempat ini, truk datang 2-3 kali sebulan, bahkan seminggu sekali. Setiap truk berisikan 20-30 tahanan, mereka dalam keadaan takut karena mata, dan tangannya diikat. ketika truk tiba, korban dipimpin langsung untuk dieksekusi diselokan dan lubang-lubang atau dikirim ke ditahan di penjara yang gelap dan suram tepat berada disamping tempat truk berhenti, bisa lihat nomor 3.

Pos Pertama| Truck Stop

Spot Nomor 2| Truck Stop

Spot Nomor 3. Dark and Gloomy Detention. Disini, adalah tempat dimana korban diangkut dari Tuol Sleng dan tempat-tempat lainnya ditahan. biasanya ketika truk tiba, korban dieksekusi segera. Namun, karena jumlah korban yang akan dieksekusi terlalu banyak hingga lebih dari 300 per hari, pengeksekusi gagal membunuh mereka dalam satu hari. Penjara ini dibangun dari kayu dengan atap baja gal. Dinding dibangun dengan dua lapisan kayu yang gelap untuk mencegah tahanan melihat satu sama lain. sayangnya penjara gelap dan suram dibongkar pada tahun 1979

Pos Nomor 3

Spot Nomor 3| Dark And Gloomy Detention

Spot Nomor 4. The Executioners Working Office Di sini, adalah tempat di mana pengeksekusi ditempatkan sebagai pekerja tetap di Choeung Ek. Kantor dilengkapi dengan tenaga listrik yang ketika mereka membutuhkannya, langsung mengeksekusi tahanan disini.

Pos Nomor 4

Spot Nomor 4| The Executioners Working Office

 

Spot Nomor 5. Former Chinese Ceremonial Kiosk.

Spot Nomor 6 : Chemical Subtances Storage Room. Disini adalah tempat penyimpanan bahan kimia seperti D.D.T (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) yang biasa dipakai untuk racun serangga. Eksekutor menyebarkan bahan kimia ini kepada tubuh korban segera setelah eksekusi. Tujuannnya untuk mengurangi bau bangkai tubuh korban tercium yang berpotensi akan menimbulkan kecurigaraan di sekitar ladang pembantaian. Tujuan yang kedua untuk membunuh korban yang dikubur hidup-hidup.

Pos Nomor 6

Spot Nomor 6| Chemical Subtances Storage Room

Spot Nomor 7. Mass Grave. Ketika penggalian pada tahun1980, disini ditemukan 450 tengkorak dan tulang manusia. Kamu akan melihat banyak gelang warna-warni yang diberikan wisatawan, bergantungan di sekeliling kuburan massal. Ini merupakan tanda turut berduka atas apa yang telah terjadi pada korban pembantaian.

Pos Nomor 7| Mass Grave

Spot Nomor 7| Mass Grave

Spot Nomor 8. Killing Tools Storage Room. How people were killed.

Spot Nomor 9. Chinese Grave. Bones and Teeth Fragments.

Pos Nomor 9

Spot Nomor 9| Chinese Grave. Bones and Teeth Fragments

Spot Nomor 10. Longan Orchard. People worked to death by Angkar.

Spot Nomor 11. Walk on path by lake. Music and Memories “A Memory from Darkness” by Him Sophy.

Spot Nomor 12. Survivor Stories . Di bagian ini akan diceritakan mengenai kisah nyata  dari para survivor yang selamat dari kekejaman Pol Pot. Ketika mendengar cerita ini, membuat aku merinding. Berikut ada beberapa bagian cerita, diantaranya

  • Loss of an infant : Kehilangan Seorang Bayi
  • Witness to a killing : Saksi Pembunuhan
  • Rape leads to shame : Pemerkosaan Menyebabkan Malu
  • One man’s story : Cerita Seorang Lelaki
  • The first day, forced to leave home : Hari Pertama, di Paksa Meninggalkan Rumah
  • In the village, his cousin killed in front of him : Di Kampung, Saudaranya di Bunuh di Depan Mata
  • Anger, isolation, his mother’s dream, hope : Kemarahan, Kesepian, Impian Ibunya, Harapan
  • Arrested and beaten; saved by stranger sacrifice : Ditahan, Dipukul, Pengorbanan Orang Yang Tidak Dikenali
  • Escape to America, returns for revenge, healing : Melarikan Diri Ke Amerika, Kemudian Kembali Lagi Untuk Membalas Dendam.

Spot Nomor 13. Mass Gave. Disini ditemukan 166 korban tanpa kepala.

Pos Nomor 13

Spos Nomor 13| Mass Grave

Spot Nomor 14. Glass Box. Di dalam kotak ini, terdapat baju-baju korban pembunuhan. Baju ini ditemukan bersama dengan beberapa tengkorak saat penggalian. Beberapa dianataranya masih terlihat bercak darah yang mengering.

Victims Clothes

Spot Nomor 14| Glass Box

Spot Nomor 15. The Killing Tree. Untuk menghemat peluru, para tentara Khmer Merah membantai anak bayi dengan menghantamkan kepala mereka ke pohon ini. Sungguh perbuatan yang sangat keji, anak bayi yang tidak berdosa juga ikutan di bantai. Di pohon ini juga banyak terdapat kalung para wisatawan sebagai tanda bela sungkawanya.

DSC01186

Spot Nomor 15| The Killing Tree

Spot Nomor 16. Glass Box

Pos Nomor 16

Pos Nomor 16| Glass Box

 

Spot Nomor 17. The Magic Tree. Dahulu di atas pohon ini terdapat alat pengerah suara atau TOA yang memutarkan lagu-lagu kebangsaan, dengan tujuan untuk meredam suara jeritan korban yang di siksa. Semakin malam volume suara di kerasnya.

| The Magic Tree

Spot Nomor 17| The Magic Tree

Spot Nomor 18. Memorial Stupa. Rutenya akan kembali lagi ke Memorial Stupa ini, dan kamu akan melihat pedagang yang menjual bunga sebagai tanda belangsungkawa terhadap korban yang telah di bantai.

Spot Nomor 19. Farewell. Dengan “Oh Phnom Penh Instrumental & Oh Phnom Penh Vocal” sebagai penutup.

Di Choeung Ek ini juga terdapat museum, disini kamu bisa melihat benda-benda ataupun alat-alat yang digunakan oleh para Khmer Merah. Dan disamping museum ini ada sebuah mini teater yang menayangkan tentang dokumter saat perang dan ditemukannya daerah Killing Field ini. Aku sempat tertidur dan mendengkur saat pemutaran film berlangsung :-D, *gimana gak capek, kurang istirahat, terus habis makan, jalan mengitari Killing Field, terus masuk ruangan gelap, kenak AC pula, pas mantap buat lapak tidur, hahaha*

Sesuai dengan itinerary, seharusnya setelah mengunjungi Killing Field, kami melanjutkan ke Toul Sleng yaitu penjara S-21. Penjara dimana semua korban dikurung dan disiksa sebelum dihantarkan ke Killing Field, tapi kami memutuskan untuk kembali ke Hotel, karena kami tidak mau memaksa keadaan yang sangat lelah saat itu. Perjalanan kami masih panjang, jadi kami harus tetap menjaga kesehatan. Kami meminta sore-nya untuk dihantarkan ke Central Market.

***

Central Market merupakan pusat belanja dan terbesar di Phnom Penh, kami menyempatkan diri untuk berbelanja kenang-kenangan di pasar ini. Banyak jenis barang yang dijual disini, dan harganyapun tak kalah murah, mulai dari $2-$15, tergantung dengan barang yang di beli. Beberapa pedagang, kami jumpain tidak cukup mahir berbahasa Inggris, jadi segala transaksi menggunakan kalkulator dan bahasa tubuh. Sambil menawar dengan menggoyang-goyangkan tangan. Ternyata tidak susah jalan-jalan kalau tidak bisa bahasa Inggris ataupun lokal, cukup menggunakan bahasa tubuh, sudah di pahami oleh orang lain hahaha 😀

Central Market Phnom Penh

Central Market Phnom Penh

Setelah makan malam, aku yang saat itu sudah lelah, memutuskan untuk kembali ke Hotel, sedangkan teman-teman yang lainnya meminta untuk di antarkan ke tempat massage. Biaya lumayan mahal, sekitar $11. Bila kamu mendengar atau melihat tulisan “Massage Boom Boom” itu adalah Massage Plus Plus, kamu akan dikenakan kocek yang tidak sedikit yaitu sebesar $20-$40. Aku memilih untuk beristirahat di kamar, karena besok pagi melanjutkan perjalanan menuju kota lain di Kamboja, yaitu Siem Reap. Dan jarak yang di tempuh juga lumayan lama, 7-8 jam dengan menggunakan bus.

Rincian Biaya Sehari Di Phnom Penh

  • Biaya Tuk Tuk Full Day $5/Person
  • Makan Siang $6
  • Hotel $7,5
  • Killing Field Ticket $6
  • Mineral Water + Makanan Ringan $10
  • Oleh-Oleh $10
  • Dinner $5
  • Bayar Guide (Seikhlas Hati) $3/Person
  • Tuk Tuk to Bus Station $1                            +
  • Total      $39/Person x Rp. 11.800 = Rp. 448.400

Jika ingin memasuki Royal Palace, dan Tuol Sleng Genocide Museum tinggal menambahkan $6,5 + $4, disarankan jika ingin ke Phnom Penh, pergilah dengan beberapa orang, agar bisa berbagi biaya Tuk Tuk dan Hotel.

Baca Cerita Selanjutnya di Cerita Singkat, Cepat, Dan Hemat Di Siem Reap-Kamboja

Advertisements