Cerita Singkat, Cepat, Dan Hemat Di Siem Reap-Kamboja

Sinar Matahari masuk dari sela-sela kecil jendela hotel membuatku terbangun. Mataku masih sembab, dan seluruh badan masih terasa kaku untuk di gerakan, akhirnya aku menarik selimut dan melanjutkan tidur.  Tiba-tiba aku tersentak kuat dan langsung melompat ke lantai seakan tempat tidur mempunyai tegangan listrik. Aku panik dan langsung mencari jam tangan dan melihat jam menujunkan pukul 08.20am. Aku membangunkan Fahri, yang saat itu satu kamar denganku.

“isshh anak ini kayak kerbo di panggil gak bangun-bangun” #plakk  tendangan halilitarpun melayang, seketika langsung bangun dengan muka sembab, mata layu.

“mampos kita udah telat, kau siapin terus barang-barang, cuci muka aja gak usah mandi”  perintahku ke Fahri, kemudian aku bergegas ke kamar lainnya, dan semua masih nyaman tidur di kamar.

“Woii, kita uda ketinggalan bus ni, cepat sikit, gak usah mandi “ Semua panik, langsung bergegas barang-barang.

Aku kembali menuju kamar, dan Fahri menanyakan “jam berapa emang kita berangkat”

“Jam 7.30 bus kita berangkat, tapi aneh kenapa si Nasir gak suruh pihak hotel membangunkan kita, kan kita sewa Tuk-Tuknya”  Jawabku

“ini masih jam 7.20 Za, masih ada waktu kita”  Tambah Fahri yang saat itu sudah selesai packing barang

Aku melihat jam tangan “ini udah hampir setengah sembilan loh Fahri” 

Pikiranku senyap, memikirkan sesuatu yang aneh tentang jam ini “ohhh yaaa, ini jam tangan aku setting untuk waktu Singapura, belum aku ganti lagi ke waktu Kamboja, beda waktu itu satu jam dari Singapura, berarti ini masih jam 07.30, kita masih ada waktu”

Bel kamar berbunyi, dan ternyata itu Nasir “kenapa abang lama sangat, saya dah tunggu kat lobby satupun tak ada yang turun, orang bas dah telpon-telpon saya, hmmm enak ke massage boom boom, sampai dah lupa bangun tidur pagi keee”

Aku cuma bisa tertawa, padahalkan aku tidak ikutan massage semalam. Semua sudah berkumpul di lobby, dan bergegas menaiki Tuk Tuk. Selama di Tuk Tuk kami semua terdiam, senyap, berharap bus tidak meninggalkan kami. Dan telepon Nasir kembali berdering, dengan menggunakan Bahasa Kamboja.

“bas dah ready dari tadi, tinggal tunggu kita sajalah”

Satu sisi kami merasa beruntung masih di tunggu oleh bus, tapi kami merasa malu karena keterlambatan ini, dan bisa membuat pola pikir orang Kamboja terhadap Indonesia yang selalu telat, yang imbasnya kepada orang Indonesia lainnya ketika berada di Kamboja.

Begitu sampai di terminal bus, si supir marah-marah, dan aku merasa tidak enak dengan para penumpang yang lainnya, aku minta Nasir mentranslatekan apa yang dia katakan

“ya tak apa bang, dia cuma penat tunggu kita je lah”

Sebelum menaiki bus, kami bersalaman dengan Nasir, dan teman Tuk Tuknya. Akhirnya dapat teman juga di Kamboja, selain muslim, orangnya juga sangat ramah, murah senyum, terima kasih Nasir. Saat menaiki bus aku memasang senyum lebar, sebagai tanda maaf sudah menunggu terlalu lama, dan penumpang yang lainnya juga ikut tersenyum, tidak seperti yang aku bayangkan, mereka akan marah dengan keterlambatan kami, dan kami memilih seat yang berada paling belakang. Busnya lumayan bagus, ber-AC. Akan tetapi kalau di bandingkan dengan bus Lintas Aceh-Medan, sangatlah jauh lebih nyaman dan bagus bus Lintas Aceh-Medan.

Selama perjalanan, perut sudah mulai keroncongan, akibat terburu-buru sehingga tidak sempat membeli minum dan roti sebagai makanan pagi. Yang hanya tersisa snack semalam yang tidak di makan. Ketika bus ini berhenti , terlihat warung makan dan minuman, begitu melihat menunya, ternyata semua pork. Menghirup baunya saja sudah hampir membuatku muntah. Aku hanya membeli air mineral saja, sangat jauh berbeda murah di bandingkan Singapura, cukup membayar $1 aku dapat mineral water dengan kemasan sedang sebanyak 4 botol.

***

Aku melihat di sekeliling pamplet nama, semua bertuliskan Bahasa Kamboja. Bus kami berhenti di sebuah loket, dan sama halnya seperti di Aceh, pengendara Tuk Tuk beramai-ramai  menunggu di depan pintu bus. Aku menanyakan dengan salah satu penumpang bus, ternyata kami sudah sampai di Siem Reap. Saat keluar bus, tas kami sudah berserakan seperti di banting ke tanah, begitu juga dengan tasku yang seluruhnya di penuhi debu. Banyak supir Tuk Tuk menawarkan jasanya, tapi aku hanya fokus pada seorang supir Tuk Tuk yang memanggil kami.

“Indonesi, Indonesi” sapa seorang supir Tuk Tuk dari kejauhan

Kami mendekatinya “ya, we are from Indonesia”

“yes, your face like Cambodian too, same same but different, Are you muslim?” tanya supir tersebut

“yes, we are muslim”

“Assalamualaikum, i’m muslim too” jawab supir Tuk Tuk dengan penuh senyum

ya, ini adalah kedua kalinya kami mendapatkan supir Tuk Tuk seorang muslim. Aku lupa namanya siapa, yang pasti Bahasa Inggrisnya cukup bagus, gampang di mengerti oleh wisatawan. Tanpa basa basi kami minta di antarkan ke guest house tempat kami akan menginap yaitu “Home Sweet Home” , dan dia langsung tau dimana lokasinya “yea cheap hotel, good, good”

Satu Tuk Tuk kami di kenakan biaya $5 dan dapat di bagi menjadi $1/orangnya. Selama di perjalanan kami bercerita tentang negara Kamboja ini, tak lupa supir Tuk Tuk memberikan tawaran kami untuk menuju ke Angkor Wat. Angkot Wat merupakan destinasi utama kami selama di Siem Reap. Dia menawarkan untuk satu Tuk Tuk $25, dan kami menerima tawaran itu, dengan syarat menunggu di penginapan dan mengantar kami ke rumah makan Halal.

Begitu tiba di penginapan kami langsung check in. Resepsionisnya yang merupakan owner penginapan juga menawarkan kami sewa Mini Van untuk berkeliling Angkor Wat. Tapi kami menolaknya karena sudah memesan Tuk Tuk untuk menuju kesana. Dia menjelaskan bahwa, harga Tuk Tuk disini lebih mahal di bandingkan sewa  Mini Van. Kami mulai tertarik dengan tawarannya, dan menanyakan harga sewa Mini Van. Ketika dia bilang untuk satu Mini Van kalian cukup membayar $30 saja, kami semua saling bertatapan.

“Satu Tuk Tuk kita bayar $25 dan muatnya Cuma 5 orang, berarti kita harus sewa 2 tuk tuk, dengan harga $50. Mending naik Mini Van jauh lebih murah $30 untuk 10 orang, nyaman gak kena panas, dan ber-AC lagi, tapi bagaimana dengan supir Tuk Tuk nya udah kasian nunggu di luar dan udah kita booking juga”

Setalah di putuskan, kami akan memilih Mini Van yang lebih nyaman, tapi di antara kami tidak ada yang berani untuk membatalkan perjanjian dengan supir Tuk Tuk. Akhirnya Fadil dan Seipol yang memberanikan diri untuk langsung ngomong dengan supir Tuk Tuk.

Singkat cerita percakapan Fadil dan Seipol dengan supir Tuk Tuk

“we apologize, we are tired, so we decided to take a rest today, and continue tomorrow. We’re not booking Tuk Tuk for today, is it okey right?”

“owh it’s okay, I’ll pick you tomorrow morning to Angkor Wat”

“ohh no, tomorrow morning we have to go to Pattaya by bus”

“you said tomorrow would be to Angkor Wat, so when are you going to Angkor Wat? surely the hotel give you cheap rates using a mini van, so you have to cancel with us right?. okay no problem, it’s always happen between the hotel and the tuk tuk driver”

Ya kami berbohong untuk menolak tawaran si supir Tuk Tuk. Ternyata kejadian ini sering terjadi di Siem Reap, sehingga supir Tuk Tuk mengetahui kami menerima tawaran pihak hotel yang lebih murah. Tapi bohong untuk mendapatkan harga yang lebih murah gak salah juga kan 😀 heheheh

Tipe Kamar Yang Kami Tempati

Home Sweet Home| Tipe Kamar Yang Kami Tempati

Teras dan Ruang Lobby

Teras dan Ruang Lobby

Kami sudah mendapatkan kunci kamar. Untuk satu kamar cukup membayar dengan harga $8/room yang dapat dibagi menjadi 2 orang untuk satu kamar. Kami telah membuat janji, pukul 16.00 Mini Van akan menjemput di Hotel. Kami hanya menginap semalam di Siem Reap, karena besok pagi harus berangkat lagi ke Pattaya.

Lagi lagi kami telat, karena ketiduran. Jam sudah menunjukan pukul 16.30. kami lari menuju lobby dan menanyakan apakah Mini Van sudah siap. Ternyata Mini Van sudah berada 30 menit sebelumnya, atau sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan.

Kami langsung menyapa supir dan langsung menaiki Mini Van. Namanya adalah “Yo Yo”. Nama yang cukup unik, dan Yo Yo juga memiliki Bahasa Inggris yang baik. Selama perjalanan kami bercerita panjang lebar. Yo Yo belajar Bahasa Inggris hanya dari pengalaman membawa turis saja, selain itu Yo Yo juga mempunyai wawasan yang luas, dia menanyakan kepada kami tentang perkembangan  Virus Ebola yang saat itu sedang hot news di dunia.

Suasana semakin akrab, ketika Yo Yo bercerita tentang pengalamannya membawa bermacam turis. Dia tidak menyangka kalau orang Indonesia tidak seperti yang dia bayangkan, murah senyum, ramah, suka tertawa, tidak seperti orang Malaysia. Yo Yo pernah membawa Turis asal Malaysia, tapi dia sangat kecewa karena sikap turis Malaysia yang terlalu sombong dengannya.  Selain itu dia berjanji tidak akan membawa turis asal Rusia, karena saat pertama kali membawa turis Rusia, dia selalu tersenyum sedangkan turis Rusia hanya memasang muka datar saja, dan tidak menyapa sama sekali selama tour berlangsung.

Asik mengobrol tidak terasa kami sudah berada di komplek Angkor Wat, dan langsung menuju ke counter tiketnya. Yo Yo langsung tancap gas “Semoga kalian tidak terlambat, karena ini sudah hampir tutup”.

Begitu sampai di counter tiket, ternyata sudah tutup. Ini adalah kesialan kedua kalinya akibat kelalaian kami dalam memanage waktu. Kami sangat menyesal tidak dapat berkunjung ke destinasi utama Siem Reap. Tak di duga Yo Yo yang baru saja kami kenal turut kecewa dan kesal, seakan dia adalah bagian dari group kami. Tidak mau melihat kami kecewa, Yo Yo mengatakan sebuah rahasia yang biasa tidak dia katakan untuk turis lainnya. Dia memberitahukan bahwa, Angkor Wat pada pukul  18.00 di buka free untuk siapa aja yang masuk melihat Sunset. Tapi hanya di bolehkan untuk di kawasan Angkot Wat saja, tidak di izinkan menuju Angkor Thom dan Ta Prohm. Bagi kami ini tidak masalah, dari pada pulang tanpa tidak masuk sama sekali. Akan tetapi Yo Yo berpesan jika kami sudah tiba di hotel, mohon tidak menceritakan ini kepada pihak hotel, apabila pihak hotel menanyakan tentang Angkor Wat, bilang saja kalian sudah menuju kesana, tanpa mengatakan Angkor Wat sudah tutup, karena  jika kami memberitahukan pihak hotel bahwa Angkor Wat tutup maka dia tidak akan di bayar. Bagaimana bisa kami menceritakan hal ini dengan pihak hotel, sedangkan Yo Yo sudah begitu baik dengan kami.

Waktu kami masih ada satu jam lagi menunggu Angkor Wat di buka untuk umum, dan Yo Yo menyarankan kami untuk pergi ke War Museum  yang tidak jauh dari Angkor Wat. Dengan tiket masuk $5/orang. Cukup mahal sih, tahun 2013 lalu tiketnya masih seharga $3. War Museum merupakan tempat koleksi berbagai macam benda sisa-sisa perperang dengan Amerika.

Pintu Masuk War Museum

Pintu Masuk War Museum

Sisa Senjata Perang

Sisa Senjata Perang

I’m Ready To War

Sebelum pulul 18.00 kami sudah kembali ke Mini Van, dan Yo Yo langsung membawa kami menuju Angkor Wat. How lucky we are, kami gratis masuk Angkor Wat. Ini membuat kami hemat $20. Harga One day pass di Angkor Wat adalah $20, harga yang cukup mahal untuk memasuki sebuah kawasan Candi, jauh lebih murah di bandingkan dengan tiket masuk Candi Prambanan dan Borobudur.

Angkor Wat  berarti “Kota Candi” dibangun pada abad ke-12 oleh Raja Suryavarman II yang dipersembahkan untuk Dewa Wisnu. Dulunya, Angkor Wat bernama Preah Pisnulok. Pada abad ke-13, Angkor Wat secara bertahap berpindah dari Candi Hindu ke Candi Buddha. Candi ini di kelilingi hutan rimba yang ditemukan oleh Henri Mahout yaitu seorang ahli tumbuhan dari Prancis pada tahun 1860. Pada tahun 1992, Angkor Wat masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Sungai Yang Mengelilingi Angkor Wat

Sungai Yang Mengelilingi Angkor Wat

Angkor Wat

Angkor Wat

Salah satu yang menarik dari komplek Angkor ini berada di Ta Prohm, yang merupakan tempat shoting salah satu film Angelina Jolie yang berjudul Tomb Raider. Komplek Candi ini sangat luas, jadi banyak terdapat Candi-Candi lainnya, terdapat juga Candi dengan seribu kepala yaitu Bayon yang terletak di komplek Angkor Thom. Sayang sekali kami tidak bisa memasukinya karena waktu kunjungan sudah tutup.

***

Matahari sudah mulai tenggelam, kami mulai beranjak dari komplek Candi ini. Mengelilingi Candi yang begitu luas membuat kami lapar. Kami meminta Yo Yo untuk di antarkan kerumah makanan Halal. Selama traveling kami tidak pernah mencoba makanan khas dari setiap negara. Kami takut rasa yang beda membuat tidak nyaman di lambung, jadi kami selalu mencari makanan Halal yang rasanya sudah terbiasa di terima oleh lambung orang Indonesia. Yo Yo membawa kami ke tempat langganannya. Waitersnya juga sopan, dan dia sangat senang kami datang.

Saat setelah makan, aku sempat mengobral dengan salah satu Waitersnya, dia adalah seorang mahasiswa di Kamboja, dia bekerja sebagai Waiters untuk membiayai kuliahnya. Dan lagi-lagi dia salah mengenai orang Indonesia. Dia heran melihat kami begitu friendly, riang, dan penuh senyum ketika datang, dia tidak menyangka kalau kami berasal dari Indonesia. Dia bercerita sangat ingin ke Indonesia, terutama ke Jakarta. Aku tak sempat berfoto dengannya karena dia terlalu sibuk melayani orang yang memesan. Sebelum pulang kami bertemu dengan salah satu ustadz sekaligus pemilik restoran Halal ini, tak lupa kami menyempatkan untuk berfoto bersama.

Cambodian Muslim Restaurant

Cambodian Muslim Restaurant

Sebenarnya batas waktu menggunakan Mini Van habis setelah kami makan malam, tapi Yo Yo membawa kami untuk melihat Night Market dan Pub Street, yang merupakan salah satu night life yang ada di kota Siem Reap. Selama di Night Market, kami belanja sebagai oleh-oleh dari kota ini, segala transaksi menggunakan uang Dollar. Aku hanya membeli beberapa bordiran bendera tiap negara yang biasa di letakan di tas carrier. Cukup membayar $2 bisa mendapatkan 3 bendera. Tak jauh dari Night Market kami mengunjungi Pub Street. Daerah ini hanya buka setiap malam saja, yah bisa disebut ini adalah diskotik jalanan.

“tempat ini tidak begitu ekstrem, klen tengok nanti yang lebih parah dari ini di Pattaya, namanya Walking Street, dan jalannya juga lebih panjang” Kata Agung dan Fadil, yang sebelumnya mereka pernah ke Pattaya

Night Market

Night Market

Shoping Time

Shoping Time

Pub Street

Pub Street

Crowded at Pub Street

Crowded at Pub Street

Tidak berlama-lama di Pub Street kami langsung bergegas pulang, besok pagi kami harus melanjutkan perjalanan menuju negara ke 3 (Pattaya, Thailand). Sebelum sampai di Hotel, Yo Yo mengingatkan kami kembali agar tidak berbicara mengenai hal ini dengan pihak hotel, tak lupa Yo Yo memberikan akun Facebooknya Yo Yo Erun, kami dapat menghubunginya kembali jika berkunjung ke Siem Reap lagi.

Pengeluaran selama di Siem Reap

  • Tiket Bus Phnom Penh – Siem Reap    $15
  • Penginapan $8/2org = $4
  • Tike Museum War $5
  • Sewa Mini Van $30/10org = $3
  • Makan Malam $4
  • Snack $4
  • Belanja Souvenir $5                                                          +

Total = $39 x Rp. 11.800 = Rp. 460.200

Advertisements